Prinsip Agama (01) tentang Tauhid: Allah Bukan Jism
Telah ber-ijma’ umat ini bahwasanya Allah itu Esa tiada sesuatupun yang semisal-Nya dan tiada pula pengimbang bagi-Nya dalam ranah-Nya. Dengan ikrar keyakinan inilah umat ini keluar dari syirik dan hukum-hukumnya lalu masuk ke dalam hukum-hukum tauhid sepenuhnya.
Dan Allah ﷻ telah berfirman dalam sebuah ayat muhkamat kitab-Nya: tiada sesuatupun yang semisal-Nya (QS al-Syura: 11). Allah berfirman pula, “Katakanlah, ‘Dialah Allah yang Maha Esa. Allah yang Maha Langgeng. Dia tidak berketurunan dan tidak pula diturunkan; dan tiada satupun yang setara dengan-Nya.’” (QS al-Ikhlash: 1-4)
Dalam firman-Nya bahwa tiada sesuatupun yang semisal-Nya terdapat nafi terhadap seluruh sifat-sifat kebaruan dan kelunglaian. Firman ini merupakan ayat muhkamat yang bermakna: tiada sesuatupun yang seperti Dia; Sang Maha Esa yang tiada duanya. Ia adalah perkataan muhkam yang membakukan seluruh tauhid dan merupakan nafi terhadap seluruh sifat-sifat makhluk (bagi Allah). Di dalamnya terdapat bantahan atas semua orang yang mengingkari sifat-sifat Allah Ta’ala.
Tidaklah tunggal dalam hakikat melainkan hanya Allah semata. Sebab, tunggalnya ciptaan itu berbilang bersama (ciptaan) selainnya (yang sama-sama tunggal) dan berlaku pula bilangan lain atasnya. Sedangkan Allah, tiada layak atas-Nya pernyataan mereka yang menyatakan bahwa Allah adalah cahaya yang bersinar dari segala arah. Mereka yang menyatakan bahwa Allah itu berbilang namun tidak terbagi, maka artinya (sama saja ia menyatakan bahwa) Allah itu berbilang bersama (tuhan) selain-Nya dengan mengecualikan makhluk.
Maka, tidaklah seseorang dikatakan mengenal Allah bila tidak mentauhidkan-Nya dengan sifat-sifat-Nya dan memisahkan sifat-sifat tersebut dari sifat-sifat selain Allah. Sebab, pada dasarnya tidaklah siapapun dikatakan mengenal sesuatu bila tidak mengetahui hakikat sesuatu itu dari sifat-sifatnya.
Adapun makna Maha Langgeng (al-Shamad): Sang Penguasa yang berada di puncak kemuliaan, yang para makhluk menggantungkan segenap hajat (kebutuhan) mereka kepada-Nya. Dan makna tiada satupun yang setara dengan-Nya: tiada tara bagi-Nya. Tara: tandingan, pengimbang. Allah Maha Tinggi atas para tandingan (yang kaum musyrikin adakan) dengan ketinggian yang besar. Dengan ini, bukti-bukti dan dalil-dalil dari bahasa Arab sengaja saya tinggalkan agar tidak berpanjang lebar kitab ini karena membahasnya.
Dan dikatakan tentang makna Esa (Ahad): sesungguhnya Allah itu sendirian dalam penciptaan (makhluk), pengutusan (malaikat, nabi, dan rasul), dan penurunan (wahyu). Tidak ada yang berbuat sebagaimana perbuatan-Nya dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam perbuatan-Nya–Dia Maha Perkasa lagi Maha Agung dari yang demikian. Telah menentang ayat-ayat ini, ayat-ayat lainnya yang banyak dari kitab Allah, dan apa-apa yang disepakati oleh semua ayat ini, mereka yang menyatakan bahwa Allah adalah jism (raga) dan citra di atas banyaknya perselisihan mereka. Ini karena di antara mereka ada yang menyatakan bahwa Allah adalah cahaya yang bersinar dari segala arah. Ada pula yang menyatakan bahwa Allah memiliki citra Adam. Ada pula yang menyatakan bahwa Allah adalah jism (raga) namun ternafikan dari-Nya sifat jism-jism (yang lain).
Mereka semua mengusung doktrin ru’yah (bahwa Allah dapat dilihat secara hakiki) dan istiwa’ (bahwa Allah benar-benar duduk secara hakiki) dengan akal. Dan mereka semua membantah ayat-ayat muhkamat dalam kitab Allah. Sebab, jism dan apa-apa yang disifati dengan sifat-sifat jism sesungguhnya adalah partikel-partikel tersusun berbilang yang tak terpisahkan dari 6 arah (dalam ruang 3-dimensi): depan dan belakang, kanan dan kiri, serta bawah dan atas, berimpit lagi berlawanan dengan (jism) lainnya. Tak diragukan lagi bahwa jism itu memiliki tempat berada dan landasan berdiam.
Inilah makna-makna jism (raga) dan sifat-sifatnya secara alamiah yang tidak akan berpisah darinya kecuali dengan lenyapnya. Ini menunjukkan keterciptaan jism dan ketergantungannya terhadap Pencipta. Jika tidak, maka sia-sialah pendalilan dan penalaran.